Star Glam Cirebon :

Sejarah Kota: Cirebon di Bawah Kekuasaan Kesultanan Mataram (1613-1705)

#

(Sumber: Pinterest)

Kesultanan Cirebon pada tahun 1613-1705 merupakan bagian dari kekuasaan Kesultanan Mataram. Namun uniknya Kota Cirebon tidak termasuk sebagai wilayah bawahan yang harus mempersembahkan Pajak ke Mataram, sebagaimana wilayah kekuasaan Mataram lainnya di wilayah Mancanegara, Nagaragung, dan Pesisir.

Cirebon mendapatkan perlakuan berbeda dengan bukti kongkrit dihapusnya kedudukan Kesultanan di Cirebon. Padahal sebagaimana daerah lainya, jika sudah tergabung ke dalam Mataram biasanya Raja atau Sultan diubah menjadi Bupati atau Adipati.

Secara birokrasi, saat Kesultanan Mataram berkuasa memiliki tata kelola birokrasi yang berlapis-lapis. Struktur teratas terdapat raja Mataram dan keluarganya, lalu patih atau tumenggung sebagai panglima tentara. Di bawahnya struktur tersebut terdapat adipati, lalu wedana dan terakhir demang.

Struktur yang dimiliki Mataram sangat banyak dan panjang, Cirebon menjadi salah satu bagian dari struktur tersebut. Struktur Mataram dibagi dalam enam bagian, yaitu :

  1. Kutharaja, ibukota, tempat keraton sebagai pusat pemerintahan berdiri.
  2. Nagaragung , suatu wilayah yang masih dalam jangkauan pengawasan raja, tetapi pengaturan wilayahnya diatur oleh patih dengan bantuan bupati.
  3. Mancanegara, berada di luar daerah negaragung, baik di bagian barat maupun di bagian timur, tetapi wilayahnya berada di pedalaman. Wilayah ini diatur dibawah pengawasan Bupati.
  4. Pesisir, adalah struktur kewilayahan Mataram. Cirebon berada di dalamnya. Meskipun penguasa Cirebon tidak di sebut bupati, tetapi Panembahan dan Pangeran, wilayah Cirebon menjadi bagian dari struktur birokrasi Pesisir di bawah pengawasan Bupati Tegal.
  5. Bang,  wilayah bang adalah wilayah perbatasan, di bagian barat dengan Banten dan VOC, serta di bagian timur dengan Gelgel Bali.
  6. Tanah Sabrang, wilayah tanah Sabrang adalah wilayah di luar pulau Jawa seperti Palembang, Jambi dan Sukanda, Jambi dan Sukanda.

Derajat Cirebon di mata penguasa Mataram, yang membuat Cirebon bukanlah seperti daerah bawahan, tetapi sebagai daerah protektorat. Sehingga tata cara penerapan birokrasinya sangat berbeda meski secara struktural jabatan birokrasi hingga tingkat rakyat.

Para penguasa Cirebon tidak pernah memberikan upeti, walau wilayahnya berada dalam struktur kewilayahan yang terluar dari Mataram. Karena Cirebon berada dalam lingkungan keluarga inti Mataram. 

Istri Sultan Agung dan Ibu Sunan Amangkurat I serta ketiga pangeran dari Cirebon, keluarga besar Cirebon adalah keluarga besar Mataram. Sehingga tidaklah mungkin memberikan upeti, karena memang bukan orang bawahannya.

Cirebon tidak dikenakan aturan sebagaimana wilayah bawahan lainnya, akan tetapi Cirebon masih diwajibkan untuk menghadap ke Mataram sebagai bentuk pengakuan Cirebon atas kekuasaan Mataram di Cirebon. Dalam catatan Naskah Mertasinga tradisi itu disebut Seba Mataram, yaitu Cirebon diharuskan mengunjungi Mataram dalam tiap tahunnya dalam bulan-bulan tertentu (Bulan Maulud) 

Dalam catatan Kesultanan Mataram sendiri, Seba Mataram yang diberitakan dalam beberapa naskah Cirebon itu mempunyai nama Magang Tahun, yaitu Tradisi magang yang dijalankan oleh Mataram terhadap putra dari penguasa daerah istana Mataram, menyiratkan bahwa Mataram ingin menjalankan politik jaminan kesetiaan dari penguasa daerahnya. Selain sebagai tempat pendidikan bagi calon kepala daerah, tradisi magang di istana Mataram dianggap seperti ruang tahanan.

Mataram mendidik calon penguasa dengan tradisi magang dengan tujuan untuk dapat memimpin daerahnya kelak, dengan kesetian dan pengabdian kepada raja Mataram selaku atasannya. Putra-putra penguasa daerah, khususnya cirebon, selalu berada di istana Mataram, baik di Kerto (Istana Jaman Sultan Agung) maupun di Plered (Istana Jaman Amangkurat I)

Bertempat di sekitar keraton dekat dengan raja, tradisi magang para pangeran Cirebon di Mataram telah disediakan sebaik-baiknya oleh penguasa Mataram dan diberikan tempat khusus untuk tinggal di sekitar istana. 

Penyebutan tempat tinggal para putra penguasa daerah yang tinggal di sekitar istana biasanya disebut sesuai dengan asal daerahnya, bila ada yang berasal dari Surabaya disebut Kasurbayan, jika datang dari Sampang Madura dengan penyebutan Sampangan dan dari Cirebon disebut Kacirebonan. 

COMMENTS: (0)

Post You May Like