Star Glam Cirebon :

Mengenal Pangeran Angkawijaya, Bangsawan Keraton Kasepuhan Cirebon Sang Penggagas Tajug

#

(FOTO: instagram/@don_fatbozz)

Salah satu Tokoh yang berpengaruh dalam perkembangan Cirebon di tanah jawa, tidak terlepas dari peran Pangeran Angkawijaya, sosok yang terkenal dengan ajaran Tajug.

Makam Pangeran Angkawijaya atau juga dikenal sebagai Pangeran Losari berada di pinggir timur Sungai Cisanggarung, Desa Losari Lir, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Wilayah ini juga merupakan perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Sampai saat ini makam dari Pangeran Angkawijaya menjadi salah satu cagar budaya di Kabupaten Brebes. Dan untuk bisa masuk ke dalam Makam, tentu tidak sembarang orang bisa masuk karena harus ada izin khusus dari pengurus makam.

Selain berziarah, warga yang berkunjung juga memanjatkan doa serta membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Pangeran Angkawijaya masih keturunan Sunan Gunung Jati, beliau adalah cucu dari pasangan Ratu Wanawati asal Cirebon, dengan anak keturunan Raja Demak, Pangeran Dipati Cerbon.

Sosok Pangeran Angkawijaya juga dikenal sebagai ulama dan memiliki keahlian lain di bidang seni. Beliau pernah menciptakan motif batik corak Mega Mendung dan corak Gringsing. Sedangkan hasil kreasi lainnya yakni Kereta Kencana yang sampai saat ini tersimpan di Kesultanan Kasepuhan Cirebon.

Adapun kesenian yang paling fenomenal dari Pangeran Angkawijaya adalah Kesenian asal Losari, yakni Tari Topeng yang biasa dipentaskan oleh kelompok seniman setempat.

Diceritakan juga Pangeran Angkawijaya seorang bangsawan yang menyatu sebagai masyarakat biasa dan melakukan proses dakwah untuk menyebarkan Agama Islam di wilayah Losari.

(FOTO: instagram/@don_fatbozz)

Masih dalam cerita, Pangeran Angkawijaya pernah menyingkir dari kehidupan keraton, karena beliau tidak ingin terkekang dengan sistem kehidupan kerajaan yang serba gemerlap.

Beliau juga mengajarkan filosofi Tajug, maka untuk bisa terus dilestarikan dalam setiap Sabtu malam minggu selalu digelar acara tawasulan.

Tajug sendiri merupakan warisan ajaran Sunan Gunung Jati yang bermakna mendirikan rumah ibadah seperti Mushala dan Pesantren. Ajaran kedua yaitu titip fakir miskin yang bermakna melindungi dan menyantuni kaum fakir miskin.

Sampai akhir hayatnya yaitu pada tahun 1580 atau 15-16 Masehi, Pangeran Angkawijaya Hidup dan menyatu sebagai rakyat biasa menanggalkan jejak kebangsawanannya.

COMMENTS: (0)

Post You May Like