Star Glam Cirebon :

Keistimewaan Makam Sunan Gunung Jati Yang Berada di Dataran Tinggi Atau Gunung Sembung

#

(FOTO: instagram/@lampaubercerita)

Makam Sunan Gunung Jati memiliki keistimewaan yang tersimpan, maka tak heran jika Makam Sunan Gunung Jati tak pernah sepi pengunjung, dan para peziarah memanjatkan doa seraya mendapatkan keberkahan.

Dataran tinggi atau Gunung Sembung menjadi lokasi Makam Sunan Gunung Jati, kini sudah menjadi Kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati, area tersebut terdapat ribuan nisan sebagai tanda dikuburkannya keturunan dan kerabat Sunan Gunung Jati.

Gunung Sembung yang juga berada di samping Gunung Sunan, dibangun lokasi kompleks kemudian ditata dan dibentuk berupa tingkatan sebanyak 9 tingkat. Bukit buatan inilah yang disebut Gunung Sembung.

Maka Makam Sunan Gunung Jati memiliki keistimewaan karena lokasi batu nisan Sunan Gunung Jati ini terletak di tingkatan 9 atau tertinggi. Posisi ini dapat memberi pesan simbolis bahwa figur Sunan Gunung Jati merupakan pusat. Memiliki nilai tertinggi dan terhormat, serta paling sakral.

Dalam Kerajaan-kerajaan Jawa terdapat sebuah tradisi yang menyangkut pemakaman di puncak atau Gunung. Bahwa penguburan di puncak gunung merupakan privilese (hak istimewa) tokoh-tokoh politik. Pola pemakaman ini juga diterapkan oleh keluarga-keluarga kerajaan Jawa, mulai dari Kesultanan, Kepatihan, dan Pakualaman.

Tentang kerabat dan Keturunan Sunan Gunung Jati yang dimakamkan di kompleks pemakaman tersebut, menyimpan motif politis, juga mereka berharap mendapat perlindungan dari para wali di alam baka.

(FOTO: pinterest)

Di Komplek Sunan Gunung Jati memiliki peraturan khusus, jadi siapapun tidak boleh melanggarnya, adapun salah satu aturannya yakni para pengunjung kompleks makam atau peziarah biasa dilarang memasuki makam Sunan Gunung Jati dan berdoa persis di depannya. Mereka diizinkan melakukan aktivitas ziarah hanya sampai tingkat ke-3.

Untuk pusat acara ritual ziarah biasanya berada di antara tingkat 3 dan tingkat 4 disana terdapat pintu bernama Pasujudan sebagai pemisah tingkatan tersebut.

Pemberlakuan larangan tersebut konon sudah sejak 1570 M. tindakan ini diambil karena terdapat kabar kejatuhan Malaka yang membuat waswas kerabat Sunan Gunung Jati.

Disamping itu, larangan ini merupakan upaya dalam mencegah kerusakan makam. Maka diputuskan para peziarah tidak diizinkan berdoa di depan makam Sunan Gunung Jati.

COMMENTS: (0)

Post You May Like