Star Glam Cirebon :

Keraton Singapura Berharap Jadi Bagian dari Sejarah Peradaban dan Cikal Bakal Kerajaan Islam Cirebon

#

(sumber: instagram/@keraton_kasepuhancirebon)

Dengan adanya keberadaan Keraton Singapura Cirebon, para keluarga besar Keraton Singapura berharap bisa menjadi bagian dari sejarah peradaban, dan cikal bakal Kerajaan Islam Cirebon yang juga diakui Pemerintah dan masyarakat.

Hal ini diungkapkan ketika dalam kegiatan Sarasehan Babareng Sejarah Singapura yang digelar Keluarga Keraton Singapura Cirebon di Desa Mertasinga, Kecamatan Gunungan, Kabupaten Cirebon.

Hadir dalam kegiatan tersebut. Sultan Kacirebonan yaitu Sultan Abdul Gani, Komisi I DPRD Kabupaten Cirebon, R Hasan Basori, perwakilan Lanal Cirebon, Ketua FKKC, salah seorang pengasuh Ponpos Gedingan, KH Abdul Hayi, para kuwu sekitar Keraton Singapura dan lainnya.

Dalam kegiatan tersebut, yaitu Sarasehan sebagai pesan dapat menyingkap tabir eksistensi Kerajan Singapura yang diharapkan bisa menjadi cikal bakal Kerajaan Islam Cirebon berdasarkan perspektif fiologi, arkeologi arsip sejarah dan khazanah cerita tutur.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Panitia Sarasehan, KH. Abdul Muiz menurutnya Sarasehan diadakan dalam rangka penguatan gerakan literasi sejarah terkait dengan sejarah islam masa lalu.

Dalam catatan sejarah islam di nusantara terdapat fase sejarah Islam Cirebon, hal tersebut muncul ke permukaan yang belum sampai jauh di era sebelumnya. Saat ini yang diketahui hanya era keemasan, jauh sebelum itu, ulama-ulama yang mendakwahkan islam, memperkenalkan islam, tokoh-tokoh muslim, seperti Syekh Nurjati, Syekh Kuro, tokoh-tokoh yang konon dibawa oleh Laksamana Cheng Ho, yang dimana belum banyak diungkap.

Muiz menjelaskan hal tersebut menjadi bukti bahwa islam sebenarnya sudah mulai berkembang jauh sebelum era kejayaan Kerajaan islam Cirebon. Menurutnya Islam sudah hidup di era Keratuan Singapura.

"Orang masih meragukan apakah Keratuan Singapura itu ada atau tidak? Nah kegiatan sarasehan ini membuktikan bawa Singapura itu ada dan dulu corak Keislamannya sudah mulai muncul di sana. Ini yang harus kita angkat ke permukaan sebagai data sejarah yang harus diteliti sesuai kaidah-kaidah ilmiah," ujar Muiz.


(sumber: suaracirebon.com)

Sementara, pemangku adat Mertasinga, Raden Udin Kaenudin, mengatakan untuk menjawan keraguan atas keberadaan Keratuan Singapura, pihaknya sengaja mengundang sejumlah ahli sejarah.

Ahli sejarah yang diundang diantaranya Dr. Eva sebagai sejarahwan, Muhtar dari filolog, Mustakim Asteja dari arsip Keraton Kacirebonan, perwakilan dari Keraton Kasepuhan, ulama dari Gedongan, Raden Hasan Bashori, dan tokoh masyarakat seperti Kliwon Sanudin serta Kliwon Rudin. Dari para ahli sejarah yang hadir mereka menyatakan Keratuan Singapura itu ada.

Setelah diakui para ahli sejarah, pihaknya ingin agar keberadaan Keraton Singapura juga diakui Pemerintah dan masyarakat. “Tujuannya diadakan sarasehan ini agar keberadaan Keraton Singapura ini diakui oleh pemerintah dan masyarakat, “Kata Raden.

Salah satu bentuk pengakuan dan perhatian, dapat dilakukan Pemerintah Kabupaten Cirebon dengan mengundang pihak Keraton Singapura saat acara Hari Jadi Kabupaten Cirebon.

"Sebagai tindak lanjut kami akan melayangkan surat ke Komisi IV DPR untuk audensi tentang pendidikan dan kebudayaan. Kita ingin audensi tentang Keraton Singhapura sehingga betul-betul nanti Keraton Singhapura diakui oleh pemerintah, "Ujar Raden

COMMENTS: (0)

Post You May Like